|
Dunia
Puisi >> Puisi Penyair
Indonesia >> Puisi-puisi Taufiq Ismail
PUISI-PUISI
TAUFIQ ISMAIL
Beri
Daku Sumba | Depan Sekretariat Negara | Benteng
| Dengan Puisi, Aku | Aku Belum Bisa Menyebutmu
Lagi | Dalam Gerimis | Geometri
| Harmoni | Percakapan Angkasa
----------------------------------------------------
BERI
DAKU SUMBA
.......di
Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
...........aneh, aku jadi teringat Umbu
Rinduku pada Sumba adalah rindu
padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah rumput, topi rumput dan jerami
bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
Beri daku sepotong daging bakar,
lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba
Rinduku pada Sumba adalah rindu
seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki-kaki bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membennam di ufuk teduh
Rinduku pada Sumba adalah rindu
padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki-kaki bukit yang jauh
1970
Sumber:
SBSB 2005, Horison, Ditjen Dikdasmen 2005
puisi
Taufiq Ismail lainnya...
----------------------------------------------------
DEPAN
SEKRETARIAT NEGARA
Setelah korban diusung
Tergesa-gesa
Ke luar jalanan
Kami semua menyanyi
“Gugur Bunga”
Perlahan-lahan
Perajurit ini
Membuka baretnya
Airmata tak tertahan
Di puncak Gayatri
Menunduklah bendera
Di belakangnya segumpal awan.
1966
Sumber:
Jakarta dalam Puisi Indonesia, Ed. Ayip Rosidi, Dewan Kesenian Jakarta,
cetakan pertama, 1972.
puisi
Taufiq Ismail lainnya...
----------------------------------------------------
BENTENG
Sesudah siang panas yang meletihkan
Sehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balas
Dan kita kembali ke kampus ini berlindung
Bersandar dan berbaring, ada yang merenung
Di lantai bungkus nasi bertebaran
Dari para dermawan tidak dikenal
Kulit duku dan pecahan kulit rambutan
Lewatlah di samping Kontingen Bandung
Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana
Semuanya kumal, semuanya terbakar matahari
Semuanya letih, semuanya tak bicara
Tapi kita tidak akan terpatahkan
Oleh seribu senjata dari seribu tiran
Tak sempat lagi kita pikirkan
Keperluan-keperluan kecil seharian
Studi, kamar-tumpangan dan percintaan
Kita tak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam
Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam.
1966
Sumber:
Jakarta dalam Puisi Indonesia, Ed. Ayip Rosidi, Dewan Kesenian Jakarta,
cetakan pertama, 1972.
puisi
Taufiq Ismail lainnya...
----------------------------------------------------
DENGAN
PUISI, AKU
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.
1965
Sumber:
SBSB 2005, Horison, Ditjen Dikdasmen 2005
puisi
Taufiq Ismail lainnya...
----------------------------------------------------
AKU
BELUM BISA MENYEBUTMU LAGI
Ya, aku belum bisa menyebut namamu
lagi
Dalam surat, buku harian dan percakapan sehari-hari
Kembali seakan sebuah janji diikrarkan
Apa lagi yang dapat kita ucapkan
Seperti dulu, naraamu penuh belum
bisa kusebut kini
Jauhkan daku darl kekhianatan, doaku setiap kali
Daun-daun asam mulai bermerahan dalam gugusan
Bara kemarau, lunglai dan teramat pelahan
Di atas hutan kelelawar senja beterbangan
Beratus sayap berombak-ombak ke selatan
Menyebar di atas baris-baris merah berangkat tenggelam
Dan sekian ratus senja yang kucatat jadi malam
Kabut pun bagai uban di atas hutan-hutan
Uap air tipis, merendah dari tepi-tepi
Tak sampai gerimis hanya awan berlayangan
Duh namamu penuh, yang belum bisa kusebut kini
Pada suatu hari namamu utuh akan
kusebut lagi
Di titik senyap kekhianatan doaku setiap kali
Di atas baris-baris merah yang berangkat tenggelam
Sekian ribu senja kucatat jadi malam.
1964
puisi
Taufiq Ismail lainnya...
----------------------------------------------------
DALAM
GERIMIS
Segugus kapuk randu
Melayang dalam hujan
Menyambung suara bumi berbisik. Tertengadah
Pohon-pohon bungur berbunga ungu
Langit yang mekar dalam hujan pertama
Pohon bungur menyebarkan wama ungu
Sepanjang jalan raya
Angin yang mengetuk mendung. Di atas kota
Menjelang gugus malam
Muslm kemarau berbisa
Deretan sedih pohon jeungjing
Sepanjang tebing
Di langit nyaris Iembayung. Kawanan
Kelelawar beterbangan ke tenggara
Kawat-kawat telepon berjajaran menghitami
Cakrawala yang retak warna
Kota dalam sayatan jingga
Kelelawar dan kapuk randu
Melayang dalam gerimis
Di atas rimba kotaku
Dahan gladiola telanjang dan menggigil
Memanjang padang yang gelisah
Dari selatan seakan ada yang memanggil
Ini hanya sementara, akan membentang
Musim lebih parah
Mendung mengucur pelahan
Dengan kaki-kakl ramping
Dan gerimis berlompatan
Di pipi sungai. Sungai pedalaman yang jernih
Kijang-kijang istana berlarian
Berkerisik dalam pusingan dedaun coklat
Tangan yang mengacung ke langit
Dengan jari-jemari mengembang
Meninggi dalam bisa kemarau yang panjang
Sejarah berjalan terbungkuk, di padang ini
Menyalakan kemarau dan gunung api
Kemudian menuliskan namanya
Pada tangga waktu
Di
langit sudah lembayung
Kapuk randu melayang dalam gerimis
Dan kelelawar bergayutan di puncak hutan
Jajaran jendela luka
Yang tertutup dan menanti
Suara memanggil. Walau terhenti
Dalam menggigil
Kapuk randu bergugusan
Melayangi gerimis malam.
1963
puisi
Taufiq Ismail lainnya...
----------------------------------------------------
GEOMETRI
Dari titik ini
Sedang kita tarik garis luru
Ke titik berikutnya
Segala komponen
Telah jelas. Dalam soal
Yang sederhana.
1966
puisi
Taufiq Ismail lainnya...
----------------------------------------------------
HARMONI
Enam barikade telah dipasang
Pagi ini
Ketlka itu langit pucat
Di atas Harmoni
Senjata dan baju-baju perang
Depan kawat berduri
Kota yang pengap
Gellsah menanti
Bendera setengah tiang
Di atas Gayatri
Seorang ibu menengadah
Menyeka matanya yang basah.
1966
puisi
Taufiq Ismail lainnya...
----------------------------------------------------
PERCAKAPAN
ANGKASA
“Siapa itu korban di bumi
Hari ini?”
Tanya Awan
Pada Angin
“Seorang anak muda
Dia amat berani,”
Jawab Angin
“Berembuslah kau, dan hentikan
saya
Tepat di atas kota ini.”
Awan dan Angin
Berhentilah siang hari
Di atas negeri ini
Wahai, teramat panjangnya
Arakan jenazah Di bawah!
Raja manakah kiranya
Yang wafat itu?”
Bukan raja, Jawab Angin
“Pangeran agaknya?”
“Pangeran bukan
Dia hanya kawula biasa
Seorang anak muda.”
“Tapi raengapa begitu banyak
Orang berjajar di tepi jalan
Ibu-ibu membagikan minuman
Di depan rumah-rumah mereka
Orang-orartg melontarkan buah-buahan
Dalam arak-arakan
Dan saya lihat pula
Mereka bertangisan
Di kuburan
Siapa dia sebenarnya
Wahai Sang Angin?”
“Dialah anak muda
Yang perkasa
Di antara kawan-kawannya
Yang terluka
Dia telah mendahului
Menghadap Ilahi
Seluruh negeri ini
Mengibarkan bendera nestapa
Baginya
Menangisi kepergiannya
Dalam duka
Seluruh negeri ini
Yang terlalu lama dizalimi
Telah belajar kembali
Untuk menjadi berani
Dalam berbuat
Untuk menjadi berani
Menghadapi mati.”
Kata Sang Awan pula:
“Sangat menarik sekali
Kisahmu, ya Angin
Tapi sebelum kita pergi
Mengembara ke bagian bumi yang lain
Katakan pada saya
Karena kau tahu banyak
Tentang negeri ini
Katakan pada saya
Untuk apa anak muda itu mati?”
Sang Angin tersenyum dan berkata
:
“Untuk dua patah kata, dia
Rela mati
Dalam usia muda sekali.”
“Apa gerangan itu?”
Tanya Sang Awan
“Menegakkan Kebenaran,”
sahut Sang Angin
“Dan Keadilan.”
Dan mereka berdua
Mulailah ngembara lagi
Sementara senja
Turun ke bumi
1966
puisi
Taufiq Ismail lainnya...
|