|
Dunia
Puisi >> Puisi Penyair
Indonesia >> Puisi-puisi Sitor Situmorang
PUISI-PUISI
SITOR SITUMORANG
Si
Anak Hilang | Matinya Juara Judi | Malam
Lebaran | Lagu Gadis Itali (Pantun Berkait) | La
Ronde | Kristus Di Medan Perang | The
Tale of Two Continents | Surat Kertas Hijau | Paris-Janvier
| Chatedrale de Chartres | Kaliurang Tengah
Hari
----------------------------------------------------
SI
ANAK HILANG
Pada
terik tengah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu
Perahu
titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu
Bapak
duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
- laki-laki layak menahan hati -
Anak
disuruh duduk bercerita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beristri sudah beranak?
Si
anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi?
Seluruh
desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya
Selesai
makan ketika senja
Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa
Anak
diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira
Malam
tiba ibu tertidur
Bapak lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang
1955
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
MATINYA
JUARA JUDI
Telah
berlaku agaknya
Hukum leluhur, tapi
Janganlah beri nama nanti
Pahlawanku mati apa
Di akhir kisah.
Dengarlah
Cerita orang tua-tua
Kusampaikan pada pembaca
Di
seluruh negeri ia terkenal
Juara Judi tak ada bandingannya
Selalu menang dan
Dimenangkan
Segala ucapannya
Tak ada yang berani
Tiada yang mau membantah
Terlebih ketika minum arak
Di kedai-kedai
Selain
Juara Judi
Ia pemburu pula
Kalau bukan harimau,
Babi atau rusalah mangsanya
Ulung
dalam tari
Membuat ukiran indah sekali
Serta memetik kecapi ....
Dan
bila marah berbahaya serapahnya
Tapi dari segala korban
Isterinya yang paling menderita
Dua
anaknya
Satunya putera satunya puteri
Tapi tak satu jadi kesukaannya
Kata orang, “Mana ‘kan pula,
Anak lahir, bapaknya di tempat judi.”
Tibalah
saat puteranya akan dikawinkan
Halnya dirundingkan
Si putera: Aku masih terlalu muda.
Si Bapak: Kawinlah sesukami, asal jangan
perempuan buta.
Si Ibu: Kawinlah, Nak, baik ada temanku.
Adik
perempuannya
Tak sepatah pun berkata.
Hatinya terbelah antara Ibu penyabar
Dan si Bapak yang kejam
Namun dicintai sepenuhnya hati.
Si
putera akhirnya kawin
dengan gadis pilihan ibunya
Si Bapak mendongkol sejak semula
Karena bukan pilihannya
Tahun
berganti tahun
Musim berganti musim
Juara Judi semakin tua
Puterinya pun dewasa
namun tak kunjung jodoh
Pula menantu ternyata mandul
Cucu diharap tak juga datang.
“Mana
hanya satu anak laki
Menantu pilihan ibunya ternyata ladang mati
Mampus kau semua.”
Demikian kutuk Juara
Di saat pulang dari gelanggang judi.
Puteranya
tak peduli
Putuskan pergi merantau
bersama isteri
Berkata
pada ibunya;
“Tak akan aku pulang
Jangan aku ditunggu
Atau Bapak mati dulu.”
Tinggallah
ibunya sendirian
ditemani adiknya
Tak ada yang meminangnya
Orang takut menghadapi bapaknya
Yang
kini jarang kembali
asyik berburu di hutan berhari-hari
Menghindar gelannggang judi
diburu kenangan pada putera satunya
di rantau jauh
Di
desa suatu ketika
sSampai kabar
Menantu mandul meninggal di rantau
Si
Ibu yang menerima kabar
Menghempas badan ke lantai:
“Demikianlah nasibku
Kelahiranku yang kasip
Ditinggalkan orang hidup
Ditinggalkan orang mati.”
Puterinya
yang diam di sampingnya
merasa sebatang kara
Juara
lama tak pulang-pulang
Pindah ke desa lain
Kawin lagi
Harapkan anak laki pengganti
Penyambung keturunan
Sebelum ia mati
Juara
mendapat tiga anak
Dari isteri barunya
Semua perempuan
Tak ada laki
Suatu
hari
ketika sakit berat
Pawang yang diundang
berkata:
“Adakan pesta korban
Undang isteri pertama
begitu pula puterinya
Mintalah pengampunan mereka
demi leluhur.”
Dengan
berat hati
Juara kirim pesan
Agar isteri dan puterinya datang
Lalu ia menanti
Pesuruh
pun pulang
Bawa berita meragukan:
Hati Juara dirundung bimbang
Isteri dan puteri
Mungkin datang, mungkin tidak
ban biar lupa gundahnya
Juara pergi berburu
di hari anak-isterinya
dikabarkan tiba
Ia
berburu di lereng gunung di hutan
di luar desa
Sepanjang hari
sampai sorenya
Menjelang
malam
Di kampung ternyata anak-isterinya tiba
Tapi Juara tak tahu
asyik berburu rusa
Malamnyaia
digotong
berlumuran darah
Katanya diterkam harimau
“Tak dapat lagi ditolong
Ajal menuntut sudah” – kata orang desa
Lalu ia dibaringkan
di
tengah rumahnya dulu
di mana anak isterinya telah menunggu
Yang
menyambutnya dengan kagu ratap:
“Kembali sudah, kembali juara
Juaraku pulang dari berburu rusa ....”
Pahlawan
kita lalu mati
di pangkuan isteri yang ditinggalkan
Demikianlah
desa kami
kehilangan pahlawannya.
1955
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
MALAM
LEBARAN
Bulan
di atas kuburan
1955
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
LAGU
GADIS ITALI (PANTUN BERKAIT)
.............Buat
Silvana Maccari
Kerling
danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di teluk Napoli
Kerling
danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Sedari abang lalu pergi
Adik rindu setiap hari
Kerling
danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Andai abang tak kembali
Adik menunggu sampai mati
Batu
tandus di kebun anggur
Pasir teduh di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku hancur
Mengejar bayang di salju gugur
1955
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
LA
RONDE
I
Senandung lupa pertemuan malam
Dengan dirinya, memisah di kamar
Meninggi musim hingga salju
Jatuh, hingga bertambah lapar
Dua
kisah tak bertubuh
Rasuk-merasuk bau kehadirannya
"Sekira mati begini," bisik gelap
Di puncak nikmat, hingga ke subuh
Terbaring
di dada malam. "Milikku seluruh,"
erang detik mengalir dalam ciuman,
kegemasan bibir meraba waktu
memadat jadi tubuh perempuan.
Meninggi
musim hingga ke subuh
Jendela dibuka melihat salju jatuh
II
Adakah yang lebih indah
dari bibir padat merekah?
Adakah yang lebih manis
Dari gelap dibayang alis?
Di
keningnya pelukis ragu:
Mencium atau menyelimuti bahu?
Tapi rambutnya menuntun tangan
Hingga pinggulnya, penuh saran
Lalu
paha, pualam pahatan
Mendukung lengkung perut.
Berkisar di pusar, lalu surut
Agak ke bawah, ke pusat segala.
Hitam
pekat, siap menerima.
Dugaan indah.
Ah,
dada yang lembut menekan hati
Terimalah
kematangan mimpi lelaki!
III
Kau dewiku, penghibur malam hampa
Segala perbuatan siang yang sia-sia
Kebosanan abadi jadilah lupa
Dan badan hancur nikmat terasa!
Di
matamu api ingin tak puas
Membakar tulang, hingga ke sumsum diperas.
Kuserahkan pada binatang malam hari,
Nafsumu, semakin buas dan menjadi.
Adakah
candi pedupaan lebih mulia
Dari kesucian pualam tubuhmu?
Adakah lebih pemurah dari pangkuanmu
Dan panas rahmat dirangkul mulut dosa?
Padamu
seluruh setia dan sembah
Sajak penyair dan mimpi indah!
Kelupaan sesaat, terlalu nikmat
Pada siksa ingin semakin melumat.
1955
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
KRISTUS
DI MEDAN PERANG
Ia
menyeret diri dalam lumpur
mengutuk dan melihat langit gugur
Jenderal pemberontak segala zaman,
Kuasa mutlak terbayang di angan!
Tapi
langit ditinggalkan merah,
pedang patah di sisi berdarah,
Tapi mimpi selalu menghadang,
Akan sampai di ujung: Menang!
Sekeliling
hanya reruntuhan.
Jauh manusia serta ratapan,
Dan di hati tersimpan dalam:
Sekali 'kan dapat balas dendam!
Saat
bumi olehnya diadili,
dirombak dan dihanguskan,
Seperti Cartago, habis dihancurkan,
dibajak lalu tandus digarami.
Tumpasnya
hukum lama,
Menjelmanya hukum Baru,
Ia, yang takkan kenal ampun,
Penegak Kuasa seribu tahun!
1955
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
THE
TALE OF TWO CONTINENTS
Satu
rasa dua kematian
Satu kasih dua kesetiaan
Antara benua dan benua
Tertunggu rindu samudra
Dua
kota satu kekosongan
Dua alamat satu kehilangan
Antara nyiur dan salju
Merentang ketidakpedulian tuju
Semoga
kasih tahu jalan kembali
Pada pintu yang membuka dinihari
Ke mana angin membawa diri
Kekasih,
semoga kau
Dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada
Terpecah dua benua, suatu kelupaan di
...Sisik samudra.
1953
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
SURAT
KERTAS HIJAU
Segala
kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh
Segala
kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
Mengimbau dari seberang benua
Mari,
Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan
Mari,
Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan
1953
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
PARIS-JANVIER
..........Kepada
clochard*
Di
udara dingin mengaum sejarah
Bening seperti es membatu di hati
Ada taman menari di siang hari
Yang luput dari tangkapan malam rebah
Di
dasar sungai mengendap malam baru
Mengiang di telinga pekik pemburu
Antara senja dan malam
Merentang luka yang dalam
Inilah
Paris, kota penyair
Gua segal;a yang terusir
Laut lupakan sesah
Dalam dekapan satu wajah
Terbawa
dari segala mata angin
Berdiang pada cinta, terlalu ingin
Kelupaan sebuah kota
Di mana duka berwujud manusia
Dan bahagia pada manusia tak punya
1953
*clochard (bahasa Perancis): gelandangan
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
CHATEDRALE
DE CHARTRES
Akan
bicarakah Ia di malam sepi
Kala salju jatuh dan burung putih-putih
Sekali-sekali ingin menyerah hati
Dalam lindungan sembahyang bersih
Ah,
Tuhan, tak bisa kita lagi bertemu
Dalam doa bersama kumpulan umat
Ini kubawa cinta di mata kekasih kelu
Tiada terpisah hidup dari kiamat
Menangis
ia tersedu di hari Paskah
Ketika kami ziarah di Chartres di gereja
Doanya kuyu di warna kaca basah
Kristus telah disalib manusia habis kata
Ketika
malam itu sebebelum ayam berkokok
Dan penduduk Chartres meninggalkan kermis
TErsedu ia dalam daunan malam rontok
Mengembara ingatan di hujan gerimis
Pada
ibu, isteri, anak serta Isa
Hati tersibak antara zinah dan setia
Kasihku satu, Tuhannya satu
Hidup dan kiamat bersatu padu
Demikianlah
kisah cinta kami
yang bermula di pekan kembang
Di pagi buta sekitar Notre Dame de Paris
Di musim bunga dan mata remang
Demikianlah kisah kisah hari Pasah
Ketika seluruh alam diburu resah
Oleh goda, zinah, cinta dan kota
Karena dia, aku dan siteri yang setia
Maka malam itu di ranjang penginapan
Terbawa kesucian nyanyi gereja kepercayaan
BErsatu kutuk nafsu dan rahmat Tuhan
Lamabaian cinta setia dan pelukan perempuan
.....Demikianlah
.....Cerita Pasah
.....Ketika tanah basah
.....Air mata resah
.....Dan bunga-bunga merekah
.....Di bumi Perancis
.....Di bumi manis
.....Ketika Kristus disalibkan
1953
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
----------------------------------------------------
KALIURANG
TENGAH HARI
Kembali
kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut 'manggil aku berlayar dari sini
Tunggulah,
aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita bersatu lagi
1948
Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994
puisi
Sitor Situmorang lainnya...
|