.:... MENU ...:.

Halaman Depan

.:... Tentang Puisi ...:.

Definisi dan Fungsi Puisi

Jenis-jenis Puisi

Teknik Pembuatan Puisi

Teknik Pembacaan Puisi

Biografi Penyair Indonesia

Biografi Penyair Luar Negeri

Puisi Penyair Indonesia

Puisi Penyair Luar Negeri

Ruang Kreasi

.:... Lainnya ...:.

Kata-kata Mutiara

Tentang Dunia Puisi

Tentang Admin

--------------------------------------------

Klik di sini untuk melihat daftar dan mengunjungi website teman-teman saya di SMAN 1 Bogor

--------------------------------------------

.:... Ketentuan ...:.

Dipersilakan untuk mengunduh sebagian atau seluruh isi dari web ini, namun jangan lupa untuk mencantumkan sumber atau me-link back.

 

 

Indonesian Muslim Blogger

 

 

 

Dunia Puisi >> Puisi Penyair Indonesia >> Puisi-puisi Sitor Situmorang

 

PUISI-PUISI SITOR SITUMORANG

 

Si Anak Hilang | Matinya Juara Judi | Malam Lebaran | Lagu Gadis Itali (Pantun Berkait) | La Ronde | Kristus Di Medan Perang | The Tale of Two Continents | Surat Kertas Hijau | Paris-Janvier | Chatedrale de Chartres | Kaliurang Tengah Hari

----------------------------------------------------

SI ANAK HILANG

Pada terik tengah hari
Titik perahu timbul di danau
Ibu cemas ke pantai berlari
Menyambut anak lama ditunggu

Perahu titik menjadi nyata
Pandang berlinang air mata
Anak tiba dari rantau
Sebaik turun dipeluk ibu

Bapak duduk di pusat rumah
Seakan tak acuh menanti
Anak di sisi ibu gundah
- laki-laki layak menahan hati -

Anak disuruh duduk bercerita
Ayam disembelih nasi dimasak
Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beristri sudah beranak?

Si anak hilang kini kembali
Tak seorang dikenalnya lagi
Berapa kali panen sudah
Apa saja telah terjadi?

Seluruh desa bertanya-tanya
Sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
Ia lebih hendak bertanya

Selesai makan ketika senja
Ibu menghampiri ingin disapa
Anak memandang ibu bertanya
Ingin tahu dingin Eropa

Anak diam mengenang lupa
Dingin Eropa musim kotanya
Ibu diam berhenti berkata
Tiada sesal hanya gembira

Malam tiba ibu tertidur
Bapak lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang


1955

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

MATINYA JUARA JUDI

Telah berlaku agaknya
Hukum leluhur, tapi
Janganlah beri nama nanti
Pahlawanku mati apa
Di akhir kisah.

Dengarlah
Cerita orang tua-tua
Kusampaikan pada pembaca

Di seluruh negeri ia terkenal
Juara Judi tak ada bandingannya
Selalu menang dan
Dimenangkan
Segala ucapannya
Tak ada yang berani
Tiada yang mau membantah
Terlebih ketika minum arak
Di kedai-kedai

Selain Juara Judi
Ia pemburu pula
Kalau bukan harimau,
Babi atau rusalah mangsanya

Ulung dalam tari
Membuat ukiran indah sekali
Serta memetik kecapi ....

Dan bila marah berbahaya serapahnya
Tapi dari segala korban
Isterinya yang paling menderita

Dua anaknya
Satunya putera satunya puteri
Tapi tak satu jadi kesukaannya
Kata orang, “Mana ‘kan pula,
Anak lahir, bapaknya di tempat judi.”

Tibalah saat puteranya akan dikawinkan
Halnya dirundingkan
Si putera: Aku masih terlalu muda.
Si Bapak: Kawinlah sesukami, asal jangan
perempuan buta.
Si Ibu: Kawinlah, Nak, baik ada temanku.

Adik perempuannya
Tak sepatah pun berkata.
Hatinya terbelah antara Ibu penyabar
Dan si Bapak yang kejam
Namun dicintai sepenuhnya hati.

Si putera akhirnya kawin
dengan gadis pilihan ibunya
Si Bapak mendongkol sejak semula
Karena bukan pilihannya

Tahun berganti tahun
Musim berganti musim
Juara Judi semakin tua
Puterinya pun dewasa
namun tak kunjung jodoh
Pula menantu ternyata mandul
Cucu diharap tak juga datang.

“Mana hanya satu anak laki
Menantu pilihan ibunya ternyata ladang mati
Mampus kau semua.”
Demikian kutuk Juara
Di saat pulang dari gelanggang judi.

Puteranya tak peduli
Putuskan pergi merantau
bersama isteri

Berkata pada ibunya;
“Tak akan aku pulang
Jangan aku ditunggu
Atau Bapak mati dulu.”

Tinggallah ibunya sendirian
ditemani adiknya
Tak ada yang meminangnya
Orang takut menghadapi bapaknya

Yang kini jarang kembali
asyik berburu di hutan berhari-hari
Menghindar gelannggang judi
diburu kenangan pada putera satunya
di rantau jauh

Di desa suatu ketika
sSampai kabar
Menantu mandul meninggal di rantau

Si Ibu yang menerima kabar
Menghempas badan ke lantai:
“Demikianlah nasibku
Kelahiranku yang kasip
Ditinggalkan orang hidup
Ditinggalkan orang mati.”

Puterinya yang diam di sampingnya
merasa sebatang kara

Juara lama tak pulang-pulang
Pindah ke desa lain
Kawin lagi
Harapkan anak laki pengganti
Penyambung keturunan
Sebelum ia mati

Juara mendapat tiga anak
Dari isteri barunya
Semua perempuan
Tak ada laki

Suatu hari
ketika sakit berat
Pawang yang diundang
berkata:
“Adakan pesta korban
Undang isteri pertama
begitu pula puterinya
Mintalah pengampunan mereka
demi leluhur.”

Dengan berat hati
Juara kirim pesan
Agar isteri dan puterinya datang
Lalu ia menanti

Pesuruh pun pulang
Bawa berita meragukan:
Hati Juara dirundung bimbang
Isteri dan puteri
Mungkin datang, mungkin tidak
ban biar lupa gundahnya
Juara pergi berburu
di hari anak-isterinya
dikabarkan tiba

Ia berburu di lereng gunung di hutan
di luar desa
Sepanjang hari
sampai sorenya

Menjelang malam
Di kampung ternyata anak-isterinya tiba
Tapi Juara tak tahu
asyik berburu rusa

Malamnyaia digotong
berlumuran darah
Katanya diterkam harimau
“Tak dapat lagi ditolong
Ajal menuntut sudah” – kata orang desa
Lalu ia dibaringkan

di tengah rumahnya dulu
di mana anak isterinya telah menunggu

Yang menyambutnya dengan kagu ratap:
“Kembali sudah, kembali juara
Juaraku pulang dari berburu rusa ....”

Pahlawan kita lalu mati
di pangkuan isteri yang ditinggalkan

Demikianlah desa kami
kehilangan pahlawannya.


1955

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

MALAM LEBARAN

Bulan
di atas kuburan


1955

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

LAGU GADIS ITALI (PANTUN BERKAIT)

.............Buat Silvana Maccari

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di teluk Napoli

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Sedari abang lalu pergi
Adik rindu setiap hari

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Andai abang tak kembali
Adik menunggu sampai mati

Batu tandus di kebun anggur
Pasir teduh di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku hancur
Mengejar bayang di salju gugur


1955

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

LA RONDE

I
Senandung lupa pertemuan malam
Dengan dirinya, memisah di kamar
Meninggi musim hingga salju
Jatuh, hingga bertambah lapar

Dua kisah tak bertubuh
Rasuk-merasuk bau kehadirannya
"Sekira mati begini," bisik gelap
Di puncak nikmat, hingga ke subuh

Terbaring di dada malam. "Milikku seluruh,"
erang detik mengalir dalam ciuman,
kegemasan bibir meraba waktu
memadat jadi tubuh perempuan.

Meninggi musim hingga ke subuh
Jendela dibuka melihat salju jatuh

II
Adakah yang lebih indah
dari bibir padat merekah?
Adakah yang lebih manis
Dari gelap dibayang alis?

Di keningnya pelukis ragu:
Mencium atau menyelimuti bahu?
Tapi rambutnya menuntun tangan
Hingga pinggulnya, penuh saran

Lalu paha, pualam pahatan
Mendukung lengkung perut.
Berkisar di pusar, lalu surut
Agak ke bawah, ke pusat segala.

Hitam pekat, siap menerima.
Dugaan indah.

Ah, dada yang lembut menekan hati
Terimalah
kematangan mimpi lelaki!

III
Kau dewiku, penghibur malam hampa
Segala perbuatan siang yang sia-sia
Kebosanan abadi jadilah lupa
Dan badan hancur nikmat terasa!

Di matamu api ingin tak puas
Membakar tulang, hingga ke sumsum diperas.
Kuserahkan pada binatang malam hari,
Nafsumu, semakin buas dan menjadi.

Adakah candi pedupaan lebih mulia
Dari kesucian pualam tubuhmu?
Adakah lebih pemurah dari pangkuanmu
Dan panas rahmat dirangkul mulut dosa?

Padamu seluruh setia dan sembah
Sajak penyair dan mimpi indah!
Kelupaan sesaat, terlalu nikmat
Pada siksa ingin semakin melumat.


1955

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

KRISTUS DI MEDAN PERANG

Ia menyeret diri dalam lumpur
mengutuk dan melihat langit gugur
Jenderal pemberontak segala zaman,
Kuasa mutlak terbayang di angan!

Tapi langit ditinggalkan merah,
pedang patah di sisi berdarah,
Tapi mimpi selalu menghadang,
Akan sampai di ujung: Menang!

Sekeliling hanya reruntuhan.
Jauh manusia serta ratapan,
Dan di hati tersimpan dalam:
Sekali 'kan dapat balas dendam!

Saat bumi olehnya diadili,
dirombak dan dihanguskan,
Seperti Cartago, habis dihancurkan,
dibajak lalu tandus digarami.

Tumpasnya hukum lama,
Menjelmanya hukum Baru,
Ia, yang takkan kenal ampun,
Penegak Kuasa seribu tahun!


1955

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

THE TALE OF TWO CONTINENTS

Satu rasa dua kematian
Satu kasih dua kesetiaan
Antara benua dan benua
Tertunggu rindu samudra

Dua kota satu kekosongan
Dua alamat satu kehilangan
Antara nyiur dan salju
Merentang ketidakpedulian tuju

Semoga kasih tahu jalan kembali
Pada pintu yang membuka dinihari
Ke mana angin membawa diri

Kekasih, semoga kau
Dapat kepenuhan cinta dalam aku tiada
Terpecah dua benua, suatu kelupaan di
...Sisik samudra.


1953

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

SURAT KERTAS HIJAU

Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh

Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
Mengimbau dari seberang benua

Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan

Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan


1953

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

PARIS-JANVIER

..........Kepada clochard*

Di udara dingin mengaum sejarah
Bening seperti es membatu di hati
Ada taman menari di siang hari
Yang luput dari tangkapan malam rebah

Di dasar sungai mengendap malam baru
Mengiang di telinga pekik pemburu
Antara senja dan malam
Merentang luka yang dalam

Inilah Paris, kota penyair
Gua segal;a yang terusir
Laut lupakan sesah
Dalam dekapan satu wajah

Terbawa dari segala mata angin
Berdiang pada cinta, terlalu ingin
Kelupaan sebuah kota
Di mana duka berwujud manusia
Dan bahagia pada manusia tak punya


1953

*clochard (bahasa Perancis): gelandangan

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

CHATEDRALE DE CHARTRES

Akan bicarakah Ia di malam sepi
Kala salju jatuh dan burung putih-putih
Sekali-sekali ingin menyerah hati
Dalam lindungan sembahyang bersih

Ah, Tuhan, tak bisa kita lagi bertemu
Dalam doa bersama kumpulan umat
Ini kubawa cinta di mata kekasih kelu
Tiada terpisah hidup dari kiamat

Menangis ia tersedu di hari Paskah
Ketika kami ziarah di Chartres di gereja
Doanya kuyu di warna kaca basah
Kristus telah disalib manusia habis kata

Ketika malam itu sebebelum ayam berkokok
Dan penduduk Chartres meninggalkan kermis
TErsedu ia dalam daunan malam rontok
Mengembara ingatan di hujan gerimis

Pada ibu, isteri, anak serta Isa
Hati tersibak antara zinah dan setia
Kasihku satu, Tuhannya satu
Hidup dan kiamat bersatu padu

Demikianlah kisah cinta kami
yang bermula di pekan kembang
Di pagi buta sekitar Notre Dame de Paris
Di musim bunga dan mata remang
Demikianlah kisah kisah hari Pasah
Ketika seluruh alam diburu resah
Oleh goda, zinah, cinta dan kota
Karena dia, aku dan siteri yang setia
Maka malam itu di ranjang penginapan
Terbawa kesucian nyanyi gereja kepercayaan
BErsatu kutuk nafsu dan rahmat Tuhan
Lamabaian cinta setia dan pelukan perempuan

.....Demikianlah
.....Cerita Pasah
.....Ketika tanah basah
.....Air mata resah
.....Dan bunga-bunga merekah
.....Di bumi Perancis
.....Di bumi manis
.....Ketika Kristus disalibkan


1953

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

----------------------------------------------------

KALIURANG TENGAH HARI

Kembali kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut 'manggil aku berlayar dari sini

Tunggulah, aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita bersatu lagi


1948

Sumber:
Rindu Kelana, Sitor Situmorang, Grasindo, Jakarta, 1994

puisi Sitor Situmorang lainnya...

 

.:... Mau Mencari? ...:.

 

.:... Pengunjung Ke ...:.

Counters
Whole Health Vitamins

 

 

.:... Pukul Berapa? ...:.

.:... Tinggalkan Pesan ...:.

 


Free chat widget @ ShoutMix

Free SubDomain Names

 

 

.:. ...dunia puisi... © .bulanbiru. 2008 ... tampilan terbaik menggunakan : Mozilla Firefox ... kontak admin : 2712bulanbiru@gmail.com ... .:.