.:... MENU ...:.

Halaman Depan

.:... Tentang Puisi ...:.

Definisi dan Fungsi Puisi

Jenis-jenis Puisi

Teknik Pembuatan Puisi

Teknik Pembacaan Puisi

Biografi Penyair Indonesia

Biografi Penyair Luar Negeri

Puisi Penyair Indonesia

Puisi Penyair Luar Negeri

Ruang Kreasi

.:... Lainnya ...:.

Kata-kata Mutiara

Tentang Dunia Puisi

Tentang Admin

--------------------------------------------

Klik di sini untuk melihat daftar dan mengunjungi website teman-teman saya di SMAN 1 Bogor

--------------------------------------------

.:... Ketentuan ...:.

Dipersilakan untuk mengunduh sebagian atau seluruh isi dari web ini, namun jangan lupa untuk mencantumkan sumber atau me-link back.

 

 

Indonesian Muslim Blogger

 

 

 

Dunia Puisi >> Puisi Penyair Indonesia >> Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono

 

PUISI-PUISI SAPARDI DJOKO DAMONO

 

Aku Ingin | Kepada Ully Sigar | Kukirimkan Padamu | Air Selokan | Nokturno | Sebuah Taman Sore Hari | Sajak Putih | Prologue | Mengalirlah Sungai | Selamat Tinggal, Kucium | Jakarta di Bawah Hujan

----------------------------------------------------

AKU INGIN

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


1989

Sumber:
Horison Sastra Indonesia 1 Kitab Puisi, Taufiq Ismail dkk (ed.), Jakarta 2002.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

KEPADA ULLY SIGAR

hutan itu gericik air dari bukit sana
bermuara di gelas dan cangkir kita
hutan itu desau udara melintas cakrawala
lewat paru-paru dan pori-pori kita

hutan itu tempat tinggal Adam kakek kita
terlempar dari surga; kita ke sana, Saudara


1985

Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

KUKIRIMKAN PADAMU

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan
dan bunga-bunga, bangku ddan beberapa
orang tua, burung-burung merpati
dan langit yang entah
batasnya.

aku, tentu saja, tak ada di antara
mereka. Namun ada


1978

Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

AIR SELOKAN

.....“Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,”
katamu pada suatu hari Minggu pagi. Waktu itu kau
berjalan-jalan bersama istrimu yang sedang mengandung –
ia hampir muntah karena bau sengit itu.
.....Dulu di selokan itu mengalir pula air yang
digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur
darah dan amis baunya.
.....Kabarnya kemarin sore mereka sibuk memandikan
mayat di kamar mati.

.....Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi
selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding
sesuatu: “Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu –
alangkah indahnya!” Tapi kau tak mungkin lagi
menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di air yang anyir
baunya itu, sayang sekali.


1978

Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

NOKTURNO

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin, yang pucat dan tak habis-habisnya
gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, menjemputmu –
entah kapan kau bisa kutangkap


1972

Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

SEBUAH TAMAN SORE HARI

dari sayap-sayap burung kecil itu
berguguran sepi, sepiku
saat terhenti di sebuah taman kota ini
daun jatuh di atas bangku, bagai mimpi

di antara datang dan suatu kali pergi
beribu lonceng berbunyi
kekal sewaktu bercakap kepada hati
lalu kepada bumi. Di sini aku menanti


1967

Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

SAJAK PUTIH

beribu saat dalam kenangan
surut perlahan
kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh
sewaktu detik pun jatuh

kita dengar bumi yang tua dalam setia
Kasih tanpa suara
sewaktu bayang-bayang kita memanjang
mengabur batas ruang

kita pun bisu tersekat dalam pesona
sewaktu Ia memanggil-manggil
sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil
di luar cuaca


1967

Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

PROLOGUE

masih terdengar sampai di sini
duka-Mu abadi. Malam pun sesaat terhenti
sewaktu dingin pun terdiam, di luar
langit yang membayang samar

kueja setia, semua pun yang sempat tiba
sehabis menempuh ladang Kain dan bukit Golghota
sehabis meyekap beribu kata, di sini
di rongga-rongga yang mengecil ini

kusapa duka-Mu jua, yang dahulu
yang meniupkan zarah ruang dan waktu
yang capai menyusun Huruf. Dan terbaca:
sepi manusia, jelaga


1967

Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

MENGALIRLAH, SUNGAI

mengalirlah, sungai, tenang ke lautmu
waktu tegak aku di sini dalam warna biru
Siapa berkata: lihatlah
cuaca bersiap. Kabut terdengar menuruni lembah...

waktu seseorang sudah lupa menunggu
kabar pun sampai, angin tiba-tiba mengambang di atasmu
hanyutkan, sungai, beribu kata, lagu, dan tanda mata
yang tak sempat dialamatkan kepada Dunia


1967

Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

SELAMAT TINGGAL, KUCIUM

selamat tinggal. kucium udara jakarta yang bagai gambar abstrak,
kemerlap kembali di bawah bulu-bulu mataku:
matahari, debu, bintang, hujan, laut. tunggu sejenak,
biarlah terbawa segala yang paling dekat dengan hatiku

berhenti: suara, warna, cahya, udara. selamat tinggal,
segala yang berurusan langsung dengan sajak-sajakku;
terlalu sederhana arti sebuah kata, bayang-bayang dalam hujan,
jala kawat listrik, laut yang tercium sampai ke rabu

kemarin telah dipisahkan dari setiap orang: apakah yang terbawa
sehabis sebuah perjalanan, menolak dan menerima,
teringat dan lupa, setia dan tak setia kepada diri sendiri;
aku hanya bisa bercinta dengan yang paling dekat ke hati,
kucium udara jakarta yang sunyi, rindu, gelisah, seduh
cemas, haru; biarlah hatiku sendiri yang mengantar pergiku


1964

Sumber:
Jakarta dalam Puisi Indonesia, Ed. Ayip Rosidi, Dewan Kesenian Jakarta, cetakan pertama, 1972.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

----------------------------------------------------

JAKARTA DI BAWAH HUJAN

jakarta di bawah hujan, lampu demi lampu laksana dalam impian
sunyi hatiku seperti bukit, orang-orang bergerak bagai mainan;
ketika semakin reda tersembul aneka suara
terjebak dalam sajakku, suasana dalam sebuah suasana

sepiku seperti bukit, mereka pun bergerak-gerak di bawah renyai gerimis
noktah-noktah yang selalu gelisah antara tawa dan tangis;
o mari ke mari para wargakota yang baik, akulah orang asing itu
tersesat di sebuah kota yang riuh, berkiblat ke mana tak tahu

barangkali gerimis ini telah turun buatku, atas kotamu
suara yang berulang-ulang dan mendingin jauh dalam hatiku.
langkah-langkah sepatu di tepi jalan percik air bagai sulapan
sibuk dalam kesibukan, kabur terbenam ke dalam kelam;
jakarta renyai gerimis, sunyi hatiku bagai bukit batu
cahya mengerdip dalam suasana oo terjerat dalam sajakku


1964

Sumber:
Jakarta dalam Puisi Indonesia, Ed. Ayip Rosidi, Dewan Kesenian Jakarta, cetakan pertama, 1972.

puisi Sapardi Djoko Damono lainnya...

 

.:... Mau Mencari? ...:.

 

.:... Pengunjung Ke ...:.

Counters
Whole Health Vitamins

 

 

.:... Pukul Berapa? ...:.

.:... Tinggalkan Pesan ...:.

 


Free chat widget @ ShoutMix

Free SubDomain Names

 

 

.:. ...dunia puisi... © .bulanbiru. 2008 ... tampilan terbaik menggunakan : Mozilla Firefox ... kontak admin : 2712bulanbiru@gmail.com ... .:.