|
Dunia
Puisi >> Puisi Penyair
Indonesia >> Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono
PUISI-PUISI
SAPARDI DJOKO DAMONO
Aku
Ingin | Kepada Ully Sigar | Kukirimkan
Padamu | Air Selokan | Nokturno
| Sebuah Taman Sore Hari | Sajak Putih
| Prologue | Mengalirlah Sungai | Selamat
Tinggal, Kucium | Jakarta di Bawah Hujan
----------------------------------------------------
AKU
INGIN
aku
ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku
ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
1989
Sumber:
Horison Sastra Indonesia 1 Kitab Puisi, Taufiq Ismail dkk (ed.), Jakarta
2002.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
KEPADA
ULLY SIGAR
hutan
itu gericik air dari bukit sana
bermuara di gelas dan cangkir kita
hutan itu desau udara melintas cakrawala
lewat paru-paru dan pori-pori kita
hutan
itu tempat tinggal Adam kakek kita
terlempar dari surga; kita ke sana, Saudara
1985
Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
KUKIRIMKAN
PADAMU
kukirimkan
padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan
dan bunga-bunga, bangku ddan beberapa
orang tua, burung-burung merpati
dan langit yang entah
batasnya.
aku,
tentu saja, tak ada di antara
mereka. Namun ada
1978
Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
AIR
SELOKAN
.....“Air
yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,”
katamu pada suatu hari Minggu pagi. Waktu itu kau
berjalan-jalan bersama istrimu yang sedang mengandung –
ia hampir muntah karena bau sengit itu.
.....Dulu di selokan itu mengalir pula air yang
digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur
darah dan amis baunya.
.....Kabarnya kemarin sore mereka sibuk memandikan
mayat di kamar mati.
.....Senja
ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi
selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding
sesuatu: “Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu –
alangkah indahnya!” Tapi kau tak mungkin lagi
menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di air yang anyir
baunya itu, sayang sekali.
1978
Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
NOKTURNO
kubiarkan
cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin, yang pucat dan tak habis-habisnya
gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, menjemputmu –
entah kapan kau bisa kutangkap
1972
Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
SEBUAH
TAMAN SORE HARI
dari
sayap-sayap burung kecil itu
berguguran sepi, sepiku
saat terhenti di sebuah taman kota ini
daun jatuh di atas bangku, bagai mimpi
di
antara datang dan suatu kali pergi
beribu lonceng berbunyi
kekal sewaktu bercakap kepada hati
lalu kepada bumi. Di sini aku menanti
1967
Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
SAJAK
PUTIH
beribu
saat dalam kenangan
surut perlahan
kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh
sewaktu detik pun jatuh
kita
dengar bumi yang tua dalam setia
Kasih tanpa suara
sewaktu bayang-bayang kita memanjang
mengabur batas ruang
kita
pun bisu tersekat dalam pesona
sewaktu Ia memanggil-manggil
sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil
di luar cuaca
1967
Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
PROLOGUE
masih
terdengar sampai di sini
duka-Mu abadi. Malam pun sesaat terhenti
sewaktu dingin pun terdiam, di luar
langit yang membayang samar
kueja
setia, semua pun yang sempat tiba
sehabis menempuh ladang Kain dan bukit Golghota
sehabis meyekap beribu kata, di sini
di rongga-rongga yang mengecil ini
kusapa
duka-Mu jua, yang dahulu
yang meniupkan zarah ruang dan waktu
yang capai menyusun Huruf. Dan terbaca:
sepi manusia, jelaga
1967
Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
MENGALIRLAH,
SUNGAI
mengalirlah,
sungai, tenang ke lautmu
waktu tegak aku di sini dalam warna biru
Siapa berkata: lihatlah
cuaca bersiap. Kabut terdengar menuruni lembah...
waktu
seseorang sudah lupa menunggu
kabar pun sampai, angin tiba-tiba mengambang di atasmu
hanyutkan, sungai, beribu kata, lagu, dan tanda mata
yang tak sempat dialamatkan kepada Dunia
1967
Sumber:
Mata Jendela, Indonesiatera, cetakan pertama, 2001.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
SELAMAT
TINGGAL, KUCIUM
selamat
tinggal. kucium udara jakarta yang bagai gambar abstrak,
kemerlap kembali di bawah bulu-bulu mataku:
matahari, debu, bintang, hujan, laut. tunggu sejenak,
biarlah terbawa segala yang paling dekat dengan hatiku
berhenti:
suara, warna, cahya, udara. selamat tinggal,
segala yang berurusan langsung dengan sajak-sajakku;
terlalu sederhana arti sebuah kata, bayang-bayang dalam hujan,
jala kawat listrik, laut yang tercium sampai ke rabu
kemarin
telah dipisahkan dari setiap orang: apakah yang terbawa
sehabis sebuah perjalanan, menolak dan menerima,
teringat dan lupa, setia dan tak setia kepada diri sendiri;
aku hanya bisa bercinta dengan yang paling dekat ke hati,
kucium udara jakarta yang sunyi, rindu, gelisah, seduh
cemas, haru; biarlah hatiku sendiri yang mengantar pergiku
1964
Sumber:
Jakarta dalam Puisi Indonesia, Ed. Ayip Rosidi, Dewan Kesenian Jakarta,
cetakan pertama, 1972.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
----------------------------------------------------
JAKARTA
DI BAWAH HUJAN
jakarta
di bawah hujan, lampu demi lampu laksana dalam impian
sunyi hatiku seperti bukit, orang-orang bergerak bagai mainan;
ketika semakin reda tersembul aneka suara
terjebak dalam sajakku, suasana dalam sebuah suasana
sepiku
seperti bukit, mereka pun bergerak-gerak di bawah renyai gerimis
noktah-noktah yang selalu gelisah antara tawa dan tangis;
o mari ke mari para wargakota yang baik, akulah orang asing itu
tersesat di sebuah kota yang riuh, berkiblat ke mana tak tahu
barangkali
gerimis ini telah turun buatku, atas kotamu
suara yang berulang-ulang dan mendingin jauh dalam hatiku.
langkah-langkah sepatu di tepi jalan percik air bagai sulapan
sibuk dalam kesibukan, kabur terbenam ke dalam kelam;
jakarta renyai gerimis, sunyi hatiku bagai bukit batu
cahya mengerdip dalam suasana oo terjerat dalam sajakku
1964
Sumber:
Jakarta dalam Puisi Indonesia, Ed. Ayip Rosidi, Dewan Kesenian Jakarta,
cetakan pertama, 1972.
puisi
Sapardi Djoko Damono lainnya...
|