|
Dunia
Puisi >> Puisi Penyair
Indonesia >> Puisi-puisi Klara Akustika
PUISI-PUISI
KLARA AKUSTIKA
Petik
Gitar | Rukmanda | Pejoang | Nyi
Marsih | Merdeka Kami | Kasih dan Penjara
| Kata Biasa | Antara Bumi dan Langit
|
----------------------------------------------------
PETIK
GITAR
......Untuk
kawan dan lawan
Malam
ini kawanku memetik gitar
selama ini berdebu di sudut kamar
mengalun lagu kenangan lama.
Melodi
makin segar menaik
trem penghabisan menderu lalu
kawanku menyanyi nyanyian hati
cerita remaja mencumbu gadis
cerita lama jutaan buku.
Melodi
makin segar menaik
dan malam makin menyepi
suka duka bergetar dalam suara
remaja menempuh badai lautan
hilang gaids, hilang impian.
Getar
berdenyar diremas jari
remaja telanjang di padang luas
sekitar menantang nuntut pilihan
mau ke mana, mau ke mana
ini batas, ini anggur dan wanita.
Aku
tatap muka kawanku
di jalanan tukang sate yang mengeluh
dagangan mesti habis malam ini
dan dia tidak mau menyerah
bintang harapan di dalam hati.
Gitar
halus memperbaja melodi
kawanku mesra merangkai bungapi
dari hati remaja kembali.
1955
Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta,
1957
puisi
Klara Akustika lainnya...
----------------------------------------------------
RUKMANDA
Sebutkan
segala penjara
dan itu adalah aku
Sebutkan
segala badai
kepahitan pembuangan
kerinduan pada kecapi
kesunyian malam sepi
kenangan pada Priangan
dan kelayuan dari menanti
Aku
yang telah menghilang
rangkaian detik
berpuluh tahun
aku serahkan segala
pada peta perlawanan
selama ini jiwa remaja
setiap detak nafas nyawaku
dan kata ini juga diminta
aku nyanyikan "bangunlah kaum terhina"
Aku kini tiada lagi
bersatu dengan bumi tanah air tercinta
tapi lagu aku tamatkan
bersama bintang seminar kelam
dengan debar jantung terakhir
yang melihat fajar bersinar
kelahiran tunas penyambung keremajaanku
Sebutkan
segala penjara
dan itu adalah aku
tapi sebutkan juga kesetiaan
kegairahan dan kepahlawanan
itulah aku!
1954
Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta,
1967
puisi
Klara Akustika lainnya...
----------------------------------------------------
PEJOANG
Kau
tegak
bikin malu beringin seribu akar
Sekali
kau sadar di udara segar
dunia tidak buruk semua
mengapa mesti memilih
apalagi ragu bimbang
soal damai atau perang
sekali,
pejoang, kau cinta
di senyum gadis di kuncup bunga
juga indah bela rakyat
bela manusia dan dunia
dalam kata dan isi cinta.
sekali,
pejoang, kau cinta
manusia dan dunia dalam derita
Engkau
gemetar dirangsang daya
sini kami mulai, Pertiwi
anakmu menuntut bebas sejati.
Dan
kau tegak
bikin malu penipu terbuka kedok.
1952
Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-2007, Yayasan Pembaruan, Jakarta,
1957
puisi
Klara Akustika lainnya...
----------------------------------------------------
NYI
MARSIH
..........Kepada
Penari Senen
saban
malam nyi Marsih mesti menari
hati sepi jiwa hampa
nyi
Marsih datang dari desa
rumah tinggal abu
suami entah di mana
nyi Marsih pergi ke kota
saban malam menari, menari.
nyi
Marsih tidak tahu revolusi
tetapi cinta merdeka
merdeka baginya tanah
nyi masih sedih
rumah dan suami musnah.
nyi
Marsih tidak tahu krisis moral
dia senyum dan menari
dicium dan memberi
nyi Marsih tidak merdeka
dan perut keroncongan.
saban
malam nyi Marsih menari
hati menanti kapan merdeka.
1952
Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta,
1957
puisi
Klara Akustika lainnya...
----------------------------------------------------
MERDEKA
KAMI
Kami
datang sejak tahun ampatlima
kami datang cari Merdeka.
Bapa-bapa
beri kami komando
kami prajurit patuh setia
kami tuju mereka yang kami cari
mengapa dibawa ke Merdeka-bapa
Bapa-bapa
beri komando
kawan-kawan kami banyak mati
tidak tahu kami belum Merdeka
dan beberapa kami masuk penjara
Bapa-bapa
beri komando
kami prajurit patuh setia
tetapi mengapa kini
kami dengan kami yang mesti berkelahi
Kami
datang sejak tahun ampatlima
mencari Merdeka, Merdeka kami.
Bapa-bapa
lihat kami kuat
kami telah usir musuh Merdeka
bapa-bapa dengar, kami banyak
mati seribu timbul sejuta.
Kami
satu dan tidak mau
disuruh mati untuk Merdeka-ini
api-noraka kami lalui
apalagi kami takuti.
Minggir,
bapa-bapa, minggir
kami tamatkan tugas ampatlima
siapa larang musuh kami
kami bikin Merdeka untuk semua.
1952
Sumber:
Rangsang Detik, Kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta,
1957
puisi
Klara Akustika lainnya...
----------------------------------------------------
KASIH
DAN PENJARA
Kasih
dan hormat kami
waktu ini mengarah pantai hatimu
kalian di balik terali besi.
Tatapkan
pandang ke langit bintang
dan bariskan Diponegoro bersama
laguan sejarah di malam sepi
dan akan cair ruang waktu
engkau kami di hati rakyat senyawa.
Atau
dengarkan gema langkah kami
menembus besi beton kuasa
bawa pesan terima kasih
serta setia dan harapan
yang cemerlang di sinar fajar
Dan
kami semua ikut rasakan
gemas menderita di sel terbatas
ini godam batu ujian
bikin indah kekasih kita bersama
dunia kita sonder penjara
Kasih
dan hormat kami
biarkan bebas mencapai pantai hati
tahanan kini, pembebas esok.
1952
Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta,
1957
puisi
Klara Akustika lainnya...
----------------------------------------------------
KATA
BIASA
.........Kepada
R. Kertapati
Kata
orang kita satu bahasa
tetapi ternyata dusta belaka
katamu bagiku sering halimun lebat
Telah
lama aku menanti
bila adik pensiun menjadi duri
berhenti berteka-teki
bersmaa kita mengasah
kata sakti kata sederhana
Turunlah
adik, di kayangan tiada
manusia sengsara minta dibela
kasihku mengajak bersatu
di dalam cinta kepada
jutaan budak tersisa
Kata
orang, kita satu bahasa
mari adik, nikmat ini bukan monopoli
kita resapkan kepada mereka yang belum merasa
1950
Sumber:
Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan, Jakarta,
1957
puisi
Klara Akustika lainnya...
----------------------------------------------------
ANTARA
BUMI DAN LANGIT
......untuk
HB Jassin
Kita
adalah dua manusia
dari dua pandangan hidup
dipanaskan matahari satu zaman.
Engkau
dan aku mencoba
menjalin permainan hitam-putih
kita cari lapang luas
di mana kata merdeka
berhenti menjadi semboyan hampa
Kita
sama-sama cinta merdeka
tetapi isi kata kita cari masing-masing
dan detik akan temui warna
yang tak luntur diuji waktu
gila kita terus-menerus jadi pencuri?
Engkau
mabuk gairah langkah mencari
niadakan segala nilai hasil kerja
aku minta kau ambil posisi
ini senjata tidak serampangan
dia keringat dan otak sejarah manusia.
Engkau
dan aku cinta merdeka
tapi lapang luas punya batas
kalau kau berlagak dewa
ku proklamir manusia darah-daging
zaman ini pelaksana kata merdeka.
Kita
berdua sama-sama tidak bebas
kau terikat pada dirimu
aku pada manusia zaman kini
1950
Sumber:
1. Rangsang Detik, kumpulan sajak periode 1949-1957, Yayasan Pembaruan,
Jakarta, 1957
2. Zaman Baru, 2 (no. 58), 15 November 1951
puisi
Klara Akustika lainnya...
|