| Dunia
Puisi >> Puisi Penyair
Indonesia >> Puisi-puisi Abdul Hadi WM
PUISI-PUISI
ABDUL HADI WM
Tuhan
Pada Suatu Subuh | Solitude | Senja
Susut dan Wajahmu | Prelude | Ibunda
Martijah | Dan Angin Di Luar Jendela | Surat
Atas Hidup
----------------------------------------------------
TUHAN
PADA SUATU SUBUH
Tuhan
berjalan-jalan dari satu ayat ke ayat lain
Dari satu doa ke doa lain
Menyaksikan kita semua
Merubah kabut
Jadi cuaca
Demikian
sepi
Akan menjelmakan puisi
Dan Tuhan tegak di sini
Memperhatikan kita semua
Assalamu’alaikum, ucapnya
Sambil menebarkan bunga-bunga surgawi
1967
(Tahun penerbitan Terlambat di Jalan sajak-sajak 1967-1968)
Sumber:
Terlambat di Jalan sajak-sajak 1967-1968, Lingkaran Sastra dan Budaya
Mahasiswa Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM
puisi
Abdul Hadi WM lainnya...
----------------------------------------------------
SOLITUDE
Tiada
lagi siul burung
semak, pohonan dan samar gunung
hari jadi murung dan ditiup
angin laut yang sayup
Demikianlah
dinginnya sekarang danau
dan matahari musim hujan, serta bayangan
cemara dalam sisa lewat kemarau
tinggal beberapa daun hangus di puncak
Kita
sekarang berjalan dan menatap
awan yang perlahan dan engkau
lebih kemelut
mengunyah hari dingin dan menyergap
air seperti es kecil-kecil, menyapu
menyapu dahimu
Sekarang
tiada lagi siul burung
semak, pohonan dan samar gunung
dalam kabut. Dan engkau menatap
dua rindu yang dalam galau jiwa
aku diam, hari jadi murung, kemudian lewat
barisan gelisah dalam upacara tanpa nyanyian.
Madura, 1967
Sumber:
Terlambat di Jalan sajak-sajak 1967-1968, Lingkaran Sastra dan Budaya
Mahasiswa Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM
puisi
Abdul Hadi WM lainnya...
----------------------------------------------------
SENJA
SUSUT DAN WAJAHMU
Lewat
jendela
Senja susut dalam ruang
Kau saksikan
Aku sendiri sayang
Dan wajah yang tenggelam dalam sangsai ini
Dan ketika kudengar gaung panjang
Bersahutan
Bersama bayang yang berhenti
Ketika
itu pun
Kau di sana
Di muka jendela, tertegun
Dan mencari kerdip caya pada mataku
Serta sisa debu pada kakimu, perjalanan jauh
Yang kau tempuh
Alangkah gersangnya jalanan
Saat pun bulan dan gerimis bergetaran
Ketika
itu aku tak tahu
Saat jam pun meloncat ke bumi
Dan malam yang berjejal pun
Menyapu wajahmu, menyapu kakimu
Menyapu bayangmu yang kelabu
Dan termangu pada sendat gerimis lalu.
Jogja, 1967
Sumber:
Terlambat di Jalan sajak-sajak 1967-1968, Lingkaran Sastra dan Budaya
Mahasiswa Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM
puisi
Abdul Hadi WM lainnya...
----------------------------------------------------
PRELUDE
I
Di atas laut. Bulan perak bergetar
suhu pun melompat
Di bandar kecil itu. Aku pun dapat
menerka. Seorang pelaut mengurusi jangkar
II
Siapakah bertolak bersama pelaut-pelaut itu?
angin senja dari benua. Sesekali suara sauh
Siapakah yang berseru bersama pelaut-pelaut itu?
langit yang biru, bisik-bisik. Sesekali bayang-bayang negeri jauh
III
Dua nelayan Madura terjun ke sampannya
angin tak menyuruh mereka, dingin yang baja
seperti kata nenek moyangnya, mereka lepaskan mantera
seperti kata nenek moyangnya, engkau hanya menawarkan angin utara
IV
Angin akan kembali dari bukit-bukit, menyongsong malam hari
atau yang tidur siang hari, yang kedengaran membetulkan kemarau
angin yang tahu, seperti engkau, ke mana arah musim ini mati
ke laut: membujuk-bujuk nelayan. Suara yang lirih sesekali.
1967
Sumber:
Laut Belum Pasang sajak-sajak 1967-1971, Abdul Hadi WM, Penerbit Litera,
Jakarta, 1971
puisi
Abdul Hadi WM lainnya...
----------------------------------------------------
IBUNDA
MARTIJAH
.......:kepada
anaknya Abdul Hadi
Syukurlah
malam. Bulan telah di puncak perbukitan
Kupetik tali kecapinya, dalam tembang megatruh
Yang perlahan, gelisah di badan
Menggetarkan diriku dalam sepi yang jauh
Kemudian
tak ada lagi, suara laut dalam gelombang
Di sisimu pasir pantai, pelabuhan riuh dan air pasang
Kau tarik tali, kau bongkar sauh, kau lempar ke jauh
Bandar benua, badai, arus dan tentu rindumu teduh
Musim
adalah camar ketika senja, duka
Pada layar, sebelum berangkat, sudah kutulis sajak
Seperti mimpi, kemudian kian tiada lagi, sisa jejak
Syukurlah, aku pun, ketika bulan memetik tali kecapinya
Pada malam, aku khayalkan semua ada
Agar kau dengar, nak. Langit harus kau bajak.
Pasongsongan, 1967
Sumber:
Terlambat di Jalan sajak-sajak 1967-1968, Lingkaran Sastra dan Budaya
Mahasiswa Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM
puisi
Abdul Hadi WM lainnya...
----------------------------------------------------
DAN
ANGIN DI LUAR JENDELA
lampu
padam
malam mati
dan angin di luar jendela yang sayu pun terhenti
ruang yang berkemas kumandang hilang
lebih dingin, Tuhan
dan desakan langit dalam udara
dan kemarau yang berbagi sisa
padaku
pada
bayangan mengecil
pada bayangan yang tak terdengar sentuhan
terbisik juga sajak dan ceritera
tapi tak tahu detik pun jam
bersama musim turun perlahan
Tuhan,
sajak yang kini termangu, dingin abadi
terhenti sebelum jadi
di luar angin, di jendela dan bulan kian biru
pudar di atas bahuku
Tuhan,
selamat malam
Yogyakarta, 1967
Sumber:
Terlambat di Jalan sajak-sajak 1967-1968, Lingkaran Sastra dan Budaya
Mahasiswa Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM
puisi
Abdul Hadi WM lainnya...
----------------------------------------------------
SURAT
ATAS HIDUP
Seriap
darahmu menyambar api dan tarian ini harus dimulai
Larasmu ombak wirasamu karang dan guru lagumu badai
Bulan terang atas pelabuhan yang dulu tenang dan sangsai
Kapal,
tapi ke benua manakah kau akan berlayar?
Yang
mengirimmu musim panas di gurun
Ketika terik jadi kaktus
Ada tiktok jam yang tak pernah putus
Ada madu yang belum pernah kau kecup
Ada sungai
Hitam seperti darah dan merah seperti anggur
Sepucuk surat dari yang menunggu:
Hiasilah kehampaanmu dengan tawa!
1973
Sumber:
Cermin sajak-sajak 1972-1975, Abdul Hadi WM, Penerbit Budaya Jaya, 1975.
puisi
Abdul Hadi WM lainnya...
|