|
Halaman
Depan
| .:...
Tentang Puisi ...:. |
Definisi
dan Fungsi Puisi
Jenis-jenis
Puisi
Teknik
Pembuatan Puisi
Teknik
Pembacaan Puisi
Biografi
Penyair Indonesia
Biografi
Penyair Luar Negeri
Puisi
Penyair Indonesia
Puisi
Penyair Luar Negeri
Ruang
Kreasi
Kata-kata
Mutiara
Tentang
Dunia Puisi
Tentang
Admin
--------------------------------------------
Klik
di
sini untuk melihat daftar dan mengunjungi website teman-teman saya
di SMAN 1 Bogor
--------------------------------------------
Dipersilakan
untuk mengunduh sebagian atau seluruh isi dari web ini, namun jangan lupa
untuk mencantumkan sumber atau me-link back.
|
Dunia
Puisi >> Biografi
Penyair Indonesia >> Biografi Goenawan Mohamad
BIOGRAFI
GOENAWAN MOHAMAD
Sumber:
www.wikipedia.com, http://jalansetapak.wordpress.com
Goenawan
Soesatyo Mohamad (Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941) adalah
seorang pujangga Indonesia yang terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri
Majalah Tempo.
Goenawan
Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas,
mulai dari pemain sepakbola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia
perfilman dan musik, dan lain-lain. Pandangannya sangat liberal dan terbuka.
Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama
Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.
Masa
Muda
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo ini, pada masa
mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani
Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai
media umum. Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian
menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di
kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian kakaknya
yang dokter, ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B Jassin.
Goenawan yang biasanya dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas
Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow
di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti
Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Dunia
Jurnalistik
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan majalah Mingguan
Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time.
Disana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia.
Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu
itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai
oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya
pada 1994. Goenawan Mohammad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen
(AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut
mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan
kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. Ketika Majalah Tempo kembali
terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, berbagai perubahan
dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan
mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan
surat kabar harian bernama Koran Tempo. Setelah terbit beberapa tahun,
Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri
Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohammad dan Koran Tempo untuk meminta
maaf kepada Tommy Winata. Pernyataan Goenawan Mohammad pada tanggal 12-13
Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Artha Graha
itu.
Karya
Sastra
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan
berbagai karya yang sudah diterbitkan, diantaranya kumpulan puisi dalam
Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda,
Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret
Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan
Kita (1980). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan
populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara
mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan
Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap
batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di
tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an,
Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang
picik, fanatik, dan kolot.
Goenawan
Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.
|
| .:...
Pengunjung Ke ...:. |

Whole Health Vitamins
| .:...
Pukul Berapa? ...:. |
| .:...
Tinggalkan Pesan ...:. |
Free
chat widget @ ShoutMix

|